Algorithm & Code Sharing ⋅ Writings ⋅ Arts ⋅ About |
|
Menyeberangi Waktu Aku lahir di Medang Kamulan Di pulau tersendiri Tebu-tebu menari bersama hamburan padi Penduduk duduk-duduk manis melingkar Bersyukur di atas suburnya pijakan mereka Aku menyeberangi waktu Sampai tiba di Sundapura Tak jauh berbeda dari tanahku Penduduk duduk-duduk manis melingkar Bersyukur di atas suburnya pijakan mereka Abad-abad berganti Medang Kamulan dan Sundapura berganti Galuh, Sunda, Kalingga Juga Galuh, Sunda, Kalingga berganti Pajajaran, Demak, Majapahit Tak jauh berbeda dari tanahku Aku melanjutkan menyeberangi waktu Sampai tiba di sebuah pantai Disana kapal-kapal beringas berdatangan Menurunkan orang-orang asing tak ramah pribumi Merampas, merampok, dan menjajah tanah dan budaya Berabad-abad berganti Tanahku yang dulu beradab Kini beralih ke orang-orang asing tak beradab Tatanan penduduk bersandar pada kolonial Penduduk terbelenggu dan hanya bisa menunggu ajal Tanahku kini terbelenggu Tebu-tebu tak lagi menari bersama hamburan padi Penduduk duduk-duduk menangis melingkar Berduka di atas suburnya pijakan mereka Aku memutuskan untuk melanjutkan lagi Menyeberangi waktu Sampai tiba di sepetak tanah kota Yang terasa asing namanya: Metropolitan Disini aku tak lagi melihat orang-orang asing yang beringas Mereka tak lagi berkeliaran Tapi di tanah ini aku masih melihat jelas jejaknya Tatanan penduduk masih bersandar pada kolonial Yang tak ramah penduduk Tatanan menjadi roda yang menguntungkan penguasa Yang menjelma menjadi prasasti mati tak berguna untuk penduduk Tanahku masih terbelenggu Tebu-tebu dan hamburan padi kini lumpuh Berganti tebu-tebu dan padi asing Penduduk duduk-duduk menangis melingkar Berduka di atas suburnya pijakan mereka (Depok, 19 Januari 2019) —13 Juni 2020 - Catatan Sastra |
|
© 2026 Muhammad Faruq Nuruddinsyah. All rights reserved.
|